Posted by: yayasanjari | March 28, 2012

warta jari edisi khusus

Posted by: yayasanjari | March 27, 2012

VISI DAN MISI YAYASAN JaRI

Lembaga JaRI mempunyai visi menjadi sebuah lembaga yang mampu  membantu masyarakat untuk mencegah dan menanggulangi tindak kekerasan guna mencapai keseimbangan tatanan kehidupan yang harmonis antara perubahan dan kemajuan tanpa disertai tindak kekerasan. Sedangkan misi lembaga JaRI sebagai berikut :

  1. Mempromosikan Hak Asasi Manusia (HAM) salah satunya adalah hak reproduksi yang sehat dan aman serta cara-cara mewujudkannya.
  2. Penerapan Konvensi Anti Diskriminasi (CEDAW) dalam berbagai program kehidupan yang sensitif jender.
  3. Mempromosikan dan mengembangkan sikap profesioanalisme untuk mencapai tujuan.

Sesuai dengan kesepakatan antara anggota JaRI maka pada dasarnya tujuan yang ingin dicapai lembaga JaRI sebagai Women Crisis Center (WCC) yaitu dapat melindungi korban tindak kekerasan khususnya perempuan atas pelanggaran hak-haknya dan pemberdayaan keluarga serta masyarakat dalam upaya pencegahan segala bentuk kekerasan yang menyebabkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Fungsi lembaga JaRI dalam upaya penanganan dan pencegahan tindak kekerasan terhadap perempuan yang bersifat preventif dan kuratif dalam masyarakat, antara lain :

  1. Menyebarluaskan informasi melalui media cetak, brosur, buku serta melalui elektronik tentang masalah kekerasan terhadap perempuan dan akibatnya bagi kehidupan manusia dan perempuan pada khususnya.
  2. Penampung dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan
  3. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat agar memahami hak dan kewajibannya sehingga tidak terjadi pelanggaran hak perempuan melalui pelatihan, seminar, work shop mengenai kekerasan terhadap perempuan yang bekerjasama dengan lembaga pendidikan.
  4. Membantu pemulihan perempuan korban tindak kekerasan dengan disertai bantuan pengobatan medis, konsultasi psikolog serta pemenuhan kebutuhan hidup dan tempat tinggal selama proses bantuan.
  5. Mitra kerja aktif dalam proses pengembalian pada lingkungan keluarga dan masyarakat dalam pemulihan trauma korban.

Berbagai kegiatan seperti seminar, pelatihan dan workshop yang dilakukan guna meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat agar dapat memahami suatu tindakan kekerasan biasanya dilakukan bekerjasama dengan pihak lain dan tidak dilakukan secara rutin, tentunya disebabkan karena keterbatasan sumber daya manusia dan finansial lembaga JaRI. Kegiatan-kegiatan tersebut dinilai sangat membantu masyarakat dalam mengenali dampak dan gejala tindak kekerasan yang ditimbulkan serta penanganan yang dapat dilakukan agar korban dapat pulih dan dapat berinteraksi kembali tanpa adanya tekanan pihak lain. Pelibatan pihak lain seperti kepolisian, pengadilan dan instansi pendidikan di yakini akan sangat mendukung pencegahan tindak kekerasan yang lebih luas.

Posted by: yayasanjari | March 27, 2012

PROFIL JaRI

Jaringan Relawan Independen (JaRI) merupakan organisasi nirlaba yang  didirikan pada tanggal 28 Februari 1998. Pada awalnya JaRI merupakan lembaga informal yang dibentuk oleh orang-orang yang berprofesi sebagai dokter medis yang mempunyai keinginan untuk membantu masyarakat dan negara dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang sehat dan damai dengan dibekali akhlak yang baik juga. Atas dasar pemikiran tersebut didirikanlah suatu lembaga yang dinamakan Jaringan Relawan Independen (JaRI) sesuai dengan surat akta No. II/1998 pada tanggal 12 Oktober 1998di Lembang.

Pada taggal 7 April 2008 melalui Keputusan Mentri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No : AHU -1404.AH.01.02.Tahun 2008 JaRI secara resmi dikukuhkan menjadi Yayasan Sosial. JaRI pada awalnya memberikan bantuan dan informasi dalam bidang kesehatan (medis) dalam upaya membantu negara dalam menciptakan masyarakat yang sehat serta membantu memberdayakan masyarakat untuk memperoleh haknya dibidang kesehatan.
Pada saat pergerakan kampus mengawali masa reformasi sekitar tahun 1997-1998, JaRI melakukan pelatihan-pelatihan kesehatan medis bagi mahasiswa diberbagai kampus, disamping itu membantu menangani pengobatan dan mengevakuasi mahasiswa yang pro-reformasi dan terluka oleh aparat di rumah sakit. Peristiwa yang melanda bangsa Indonesia pada awal reformasi terjadi di tengah perubahan bangsa yang membawa tindak kekerasan secara tersembunyi maupun yang muncul secara kasat mata. Kekerasaan ini menimbulkan penderitaan bagi banyak orang yang tidak berdosa, dimedia massa dapat disaksikan berbagai bentuk kekerasan yang bersifat individual dalam keluarga, antar kelompok, dari yang bermotif politik sampai yang bermotif kriminal maupun yang bersifat pada pelampiasan kekesalan karena kesulitan  ekonomi, kekerasan ini menyangkut pula kekerasan pada perempuan, anak-anak dan kelompok tertentu yang tidak berdaya.
Pada awal tahun 2000 JaRI mendapatkan banyak laporan kasus tindak kekerasan yang dilakukan oleh orang lain maupun oleh keluarganya sendiri dan kebanyakan yang menjadi korbannya adalah perempuan dan anak-anak. Kasus tersebut dilaporkan sendiri oleh korban maupun laporan kasus yang diterima dari intitusi jejaring JaRI, maka sejak itulah JaRI lebih memfokuskan diri pada penanganan korban tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Oleh karena itu sukarelawan yang tergabung di lembaga JaRI akan terus berupaya melakukan penanganan dan sosialisasi dalam pencegahan tindak kekerasan serta memberdayakan masyarakat untuk memperoleh haknya dalam bidang kesehatan reproduksi dengan cara yang lebih manusiawi, upaya tersebut tentunya dengan melibatkan banyak pihak yang terkait guna mengatasi persoalan kekerasan terhadap perempuan dan kesehatan reproduksi khususnya pada perempuan.

Posted by: yayasanjari | January 4, 2012

Jenis penanganan yang diberikan JaRI

Jenis penanganan yang diberikan JaRI
A.    Psikologi
•    Konseling:
– Pribadi
– Pasangan
– Anggota keluarga lain
•    Kunjungan rumah
•    Terapi khusus
•    Rujukan lain (psikolog anak, psikiater, pemuka agama)
B.    Hukum
•    Konsultasi ( pertemuan langsung atau telpon )
•    Rujukan ( LBH, BBH dan kantor hukum / pengacara )
C.     Pendampingan oleh relawan Pendamping
•    Pelaporan ke kepolisian
•    Pemeriksaan Medis
•    Pendampingan di Persidangan apabila klien tidak didampingi lawyer

Posted by: yayasanjari | January 4, 2012

siapa yang menangani korban di JaRI ?

Siapa menangani Korban Tindak Kekerasan  di JaRI  ?

  1. Relawan
  2. Dokter, Psikolog, Ahli hukum
  3. Mitra Polisi
  4. Bantuan hukum
  5. Tokoh Agama

 

Posted by: yayasanjari | January 3, 2012

Logo Yayasan JaRI

cropped-wp.jpg

Posted by: yayasanjari | January 3, 2012

Perluasan Jejaring

Kemitraan dan sosialisasi adalah sangat penting bagi JaRI, yang mengalami keterbatasan dalam dana, tenaga dan sumberdaya lainnya.

  • Dalam mengoptimalkan pemberian pelayanan, perluasan Jaringan/Mitra kerja adalah salah satu upayanya. JaRI melakukan beberapa pendekatan terhadap lembaga atau yayasan yang sekiranya bisa menjadi mitra kerja serta pendukung program kegiatan JaRI diantaranya :
  1. Dengan RSB. Emma Poerdiredja, RS. Sartika Asih, RS. Hasan Sadikin untuk bantuan medis,
  2. POSBAKUM, LBH Pengayoman, BBH Unpad, BBH Unpas untuk bantuan konsultasi hokum
  3. Rotary Club, Rotret Bandung Metropolitan, DEPHUMHAM, DINKES kota Bandung, BPPKB Prov.Jabar untuk sosialisasi tentang UU No. 23 Tahun 2004 tentang PKDRT, Gender, Kespro dan perlindungan perempuan dan anak
  4. DINSOS untuk bantuan pemberdayaan klien dalam bidang ekonomi
  5. GLOBAL fund for women untuk bantuan dana oprasional selama satu tahun.
  6. Panti Asuhan untuk menampung dan merekomendasikan bayi yang terlahir dari seorang ibu korban perkosaan atau Kehamilan Tidak Diinginkan, sehingga dengan terjainnya kerjasama ini di harapkan angka aborsi dan trafficking bayi bisa di kurangi
  • Sosialisasi tentang Yayasan JaRI melalui media cetak dan elektronik dilaksanakan bekerjasama dengan IMTV, PJTV, RRI, Radio Maestro, Koran Radar Bandung serta koran Pikiran Rakyat, koran Republika.

Tujuan dari perluasan jaringan tersebut adalah :
Sebagai salah satu realisasi dari kegiatan preventif terjadinya tindak kekerasan di masyarakat dengan cara melaksanakan sosialisasi dalam bentuk  seminar, pelatihan baik yang dilakukan oleh JaRI sendiri maupun bekerjasama dengan dinas instansi terkait yang memiliki kegiatan yang sama dengan JaRI
Hasilnya :
Program JaRI dan pemerintah untuk bisa mensosialisasikan tentang hak – hak perempuan dan anak khusususnya  dan tentang HAM pada umumnya dapat terealisasi, pembinaan kesadaran hukum kepada masyarakat bisa tersosilisasikan sampai ke masyrakat bawah.
Adapun kegiatan Seminar dan Pelatihan  yang telah dilakukan periode November 2008 – Agustus 2009 diantaranya :

  1. Seminar  KESPRO bagi siswa/I SMKPasundan 3 yang dilaksanakan pada bulan November 2008
  2. Sosialisasi tentang KDRT dengan sasaran masyarakat di wilayah kecamatan Coblong bekerjasama dengan DEPHUHAM dilaksanakan pada bulan Januari 2009
  3. Sosialisasi tentang KDRT dalam acara pertemuan Rotary Club wilayah kota Bandung dilaksanakan pada bulan Maret  2009
  4. Sosialisasi tentang UU PKDRT baik ditingkat Provinsi maupun kota / kabupaten di Jawa Barat dimana pihak JaRIdapat kepercayaan untuk menjadi narasumber program ini dilaksanakan dari bulan Maret 2009 – sekarang
  5. Sosialisasi tentang KDRT dengan sasaran masyarakat di wilayah kecamatan Antapani bekerjasama dengan Rotret Metropolitan dilaksanakan pada bulan Juli 2009
  6. Pelatihan tentang KESPRO, Gender, Kekerasan terhadap remaja dengan peserta perwakilan guru dan siswa SMP dan SMA di kota Bandung berjumlah 75 orang peserta dilaksanakan pada bulan Juli 2009
  7. Seminar rutin membedah dan sharing buku yang berisi tentang pola relasi sebuah hubungan antara pelaku dan korban yang menjadi sumber terjadinya tindak kekerasan di dalam kehidupan masyrakat serta bagaimana kita harus menyikapi dan mengatasinya.

Posted by: yayasanjari | January 3, 2012

Pelayanan dan Penanganan Kasus

Program pelayanan dan penanganan kasus yang dilakukan oleh JaRI periode November 2008 – November 2009 data menunjukan bahwa jumlah korban yang ditangani masih paling banyak korban KDRT.
Dalam program pelayanan dan penanganan kasus yang masuk dan datang ke JaRI hal yang biasanya kami lakukan antara lain:

  1. Pendampingan oleh relawan pendamping saat klien harus melapor ataupun melakukan pemeriksaan baik secara medis, psikologis dan hukum
  2. Rehablitatif : JaRI melakukan dan memberikan pelayanan serta pendampingan secara medis, pskologis serta psikososial kepada korban yang melapor dan datang langsung baik yang datang sendiri maupun yang diantar oleh pihak kepolisian, masyaraka, teman dan keluarganya.Daam proses rehabiitatif pemberian konseling tidak hanya diberikan kepada korban saja untuk beberapa kasus kami juga tidak menutup kemungkinan untuk memberikan konseling kepada pihak pelaku sekaligus atau konseling keluarga bagi korban KDRT.Proses rehabilitatif  ini dilakukan oleh staf ahli langsung
  3. Case Confrence sebagai  upaya peningkatan kualitas pelayanan serta sharing informasi bagi seluruh tim yang terlibat dalam penanganan kasus  Kegiatan case conference ini sangat bermanfaat  bagi semua pihak baik bagi staf ahli, relawan serta kepentingan  klien dapat terpenuhi secara optimal.
  4. Membangun Kemitraan dengan pihak terkaitDalam proses penyelesaian kasus pun biasanya  kita bekerjasama dengan lembaga  dan institusi lain seperti Dinsos,Kepolisian, LBH, RS, serta LSM lainnya, untuk kasus tertentu kami juga melakukan case confrene bersama mitra kerja maupun intern JaRI
  5. Pembinaan serta pemberdayaan klien dalam bidang ekonomi,  Program ini dilaksanakan oleh JaRI bekerjasama dengan Dinas Sosial (DINSOS Prov. Jabar) dengan tujuan untuk membantu korban / klien yang selama ini terpuruk secara mental dan ekonomi bisa bangkit kembali dengan memiliki komunitas yang sesama korban serta saling mendukung dalam upaya membangun kemandirin korban dalam bidanng ekonomi.

Sampai saat ini pembinaan yang JaRI lakukan dengan mengadakan pertemuan rutin satu bulan sekali sesama anggota / komunitas untuk saling sharing informasi dan perkembangan usaha yang dijalankan masing – masing individu serta saling sharing tentang masalah yang dihadapi untuk dapat masukan dari anggota komunitas yang lainnya.
Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa dari tahun ketahun terjadi peningkatan yang signifikan terhadap jumlah kasus yang datang langsung sendiri ke sekretariat JaRI serta konsultasi melalui hotline service hal ini didukung oleh beberapa faktor antara lain :

  1. Masyarakat sudah banyak yang mengetahui adanya Undang – Undang No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan PKDRT. Peningkatan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan berbagai pihak dalam kegiatan sosialisasi tentang UU PKDRT baik ditingkat provinsi maupun kabupaten / kota. Beberapa Pengurus Yayasan JaRI biasanya diminta untuk menjadi nara sumber sehingga secara tidak langsung, nama serta hotline service JaRI tersosialisasikan kepada masyarakat luas. Hal ini juga yang membuat hampir 60 % klien yang ditangani oleh JaRI mengetahui alamat JaRI dari teman atau kerabat maupun tetangganya.
  2. Masih ada budaya tabu dalam kehidupan sosial kemasyarakatan di Indonesia yang menganggap aib bila terjadi kasus kekerasan dalam rumah tangga dan terangkat ke luar. Kemungkinan hal ini membuat klien segan dan sungkan apabila harus berbicara dan meminta bantuan pihak keluarga dalam mencari solusi pemecahan masalah yang dihadapinya, sehingga mendorong klien untuk memilih datang ke JaRI sendiri dan mohon dijaga kerahasiaan identitasnya.
  3. Banyak diantara klien korban KDRT kebingungan harus berbuat apa dan bagaimana saat mengalami atau terjadi KDRT di sekitar rumahnya sehingga mereka memilih berkonsultasi melalui hotline service karena dianggap lebih praktis, aman dan nyaman terutama bagi klien yang tidak bisa ke luar rumah karena berbagai alasan ( disekap, perempuan bekerja , klien yang hanya ingin punya teman yang mau mendengarkan keluh kesah atas penderitaan yang sudah dialaminya,takut diketahui identitasnya dan diketahui oleh keluarga ).
Posted by: yayasanjari | January 3, 2012

PROGRAM KERJA DAN SASARAN JaRI

Program kerja yang telah ditetapkan JaRI dalam kurun  waktu jangka panjang sebagai panduan kegiatan penanganan korban tindak kekerasan dan upaya preventif serta rehabilitatif  antara lain :

  1. Memberi bantuan pendampingan, advokasi pada para korban kekerasan
  2. Memberi pelayanan konsultasi medis, hukum, psikologis pada para korban yang mengalami trauma, dalam rangka rehabilitasi
  3. Mengadakan case confrence dalam penanganan kasus
  4. Mencegah terjadinya kekerasan pada perempuan dan anak anak, utamanya KdRT dengan cara menyebarluaskan informasi kepada masyarakat melalui seminar, pelatihan, work shop, bedah buku, pemutaran film dan diskusi,
  5. Membentuk jejaring dengan sesama LSM, unsur pemerintah, unsur swasta yang peduli pada korban kekerasan
  6. Pemberdayaan Klien melalui pembentukan kelompok Usaha Ekonomi Produktif ( UEP )

Peran JaRI sebagai salah satu lembaga sosial yang berkantor pusat di kota Bandung yang bergerak dalam penanganan korban tindak kekerasan (Women Crisis Center), antara lain :

  1. Sebagai lembaga pengaduan dan rujukan tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak
  2. Sebagai lembaga informasi masalah tindak kekerasan dari segi psikologis dan hukum serta sebagai lembaga penanganan korban tindak kekerasan perempuan dan anak
  3. Sebagai lembaga implementasi hak asasi manusia khususnya hak perempuan
  4. Sebagai lembaga yang mendukung kajian konvensi CEDAW.

Proses penetapan sasaran lembaga JaRI yang disesuaikan dengan program kerja didasarkan pada pemikiran bahwa masalah kekerasan harus ditangani oleh seluruh level yang ada, karena masalah kekerasan adalah masalah sosial yang menjadi tanggungjawab semua  pihak sehingga harus dipikirkan suatu pemecahan masalah yang lebih baik. Oleh karena itu sasaran implementasi program kerja JaRI adalah :

  1. Setiap individu laki-laki atau perempuan yang tidak terbatas pada usia
  2. Pemerintah atau instansi-instansi terkait
  3. Masyarakat umum.

Diharapkan setiap individu, pemerintah maupun masyarakat dapat saling mempengaruhi efektivitas tujuan bersama yaitu penghapusan tindak kekerasan secara menyeluruh.

Older Posts »

Categories